PixelWeb News. Rabu, 30 September 2026
Terbaru Chatbot Resmi Pemerintah AS America.gov Miliki Pesan Tersembunyi Berisi Parodi Puisi GimJejak Perampokan De Javasche Bank 1902: Ketika Krisis Bisnis Memicu Kejahatan Finansial BesarPemerintah Suntik Dana Rp1,2 Triliun untuk Modernisasi Pelabuhan Perikanan Pengambengan BaliSistem Kecerdasan Buatan OpenAI Kedapatan Berupaya Menembus Keamanan Situs Web PemerintahATSI Temui Komdigi Bahas Kejelasan Rollover Kuota dan Kendala Pengembalian Dana
Bisnis

Jejak Perampokan De Javasche Bank 1902: Ketika Krisis Bisnis Memicu Kejahatan Finansial Besar

Kisah perampokan De Javasche Bank tahun 1902 oleh Gentis bersaudara pasca-kebangkrutan bisnis properti mengulas pentingnya manajemen risiko finansial.

Jejak Perampokan De Javasche Bank 1902: Ketika Krisis Bisnis Memicu Kejahatan Finansial Besar

Kasus pembobolan lembaga keuangan bernilai fantastis bukan sekadar fenomena modern. Pada 22 November 1902, sejarah mencatat aksi kejahatan perbankan besar yang menimpa bank sentral De Javasche Bank (DJB) di kawasan Beos, Batavia—yang kini dikenal sebagai gedung Museum Bank Indonesia di Jakarta Kota. Peristiwa tersebut melibatkan dana sebesar 100 ribu gulden, setara dengan nilai yang sangat besar bila dikonversikan saat ini.

Pelaku utama perampokan tersebut adalah Herman Gentis dan Cornelis Gentis, dua saudara kandung yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha properti terpandang di Batavia. Aksi nekat ini dipicu oleh kehancuran finansial yang mereka alami setelah proyek investasi besar mereka mengalami kegagalan total.

Awal Mula Kegagalan Bisnis dan Perencanaan Kejahatan

Ilustrasi teknologi keamanan sistem perbankan dan brankas data digital

Sebelum terlibat dalam aksi kriminal, Gentis bersaudara mengelola proyek kawasan hunian elit bernama Gentisville di Pelabuhanratu, Sukabumi. Kawasan kota mandiri dengan fasilitas hiburan dan vila mewah dari dana investor ini hancur akibat kebakaran hebat pada Agustus 1902. Insiden tersebut memusnahkan aset perusahaan sekaligus meninggalkan beban finansial berat yang tidak mampu mereka penuhi.

Menghadapi ancaman kebangkrutan dan tekanan dari para penanam modal, kedua pengusaha ini lantas merencanakan aksi pembobolan bank sentral. Mereka menyusun skenario penyamaran secara matang, termasuk penggunaan perlengkapan penyamaran seperti rambut palsu dan pakaian menyerupai nasabah kaya untuk mengelabui petugas keamanan DJB.

Kronologi Perampokan hingga Pengejaran Pelaku

Pada hari kejadian, kedua pelaku mendatangi kantor DJB dengan dalih hendak melakukan transaksi keuangan rutin. Setelah berhasil mendekati area operasional internal, mereka mengancam petugas perbankan yang bertugas. Di bawah ancaman keselamatan jiwa, petugas terpaksa membuka brankas utama, membiarkan para pelaku menggasak modal senilai 100 ribu gulden.

Pelarian kedua perampok berlangsung dramatis ketika mereka melukai petugas yang mencoba menghalangi jalan. Pelaku membajak delman dan berganti kuda yang disiapkan di titik transit sekitar Jembatan Merah. Jalur pelarian mereka terdeteksi melintasi Bidara Cina dan Cibubur menuju arah Bogor.

Pihak kepolisian melakukan pengejaran maraton hingga pelarian pelaku terhenti di Ciluar, Bogor Utara akibat kuda kelelahan. Aparat kepolisian setempat langsung menangkap Herman Gentis di lokasi tersebut. Sementara itu, warga berhasil menghentikan Cornelis Gentis di pusat Kota Bogor setelah mengenali identitasnya.

Atas tindakan tersebut, majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara selama 15 tahun kepada Herman Gentis dan 10 tahun penjara kepada Cornelis Gentis. Rincian sejarah mengenai aksi perampokan ini dirangkum berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh CNBC Indonesia.

Apa artinya bagi pembaca di Indonesia

Rekam jejak sejarah perbankan ini memberikan perspektif penting mengenai perkembangan sistem pengamanan dan manajemen risiko di Indonesia. Dari sudut pandang industri keuangan, peristiwa ini menegaskan bahwa kejahatan sektor finansial selalu berevolusi seiring perkembangan zaman.

Bagi pelaku usaha dan konsumen di Indonesia, kasus Gentis bersaudara menekankan pentingnya transparansi manajemen risiko investasi serta pengelolaan krisis bisnis. Kegagalan mitigasi risiko sektor properti masa lalu menunjukkan bahaya pengelolaan utang yang tidak terkendali. Saat ini, penguatan verifikasi nasabah, pengawasan internal perbankan, serta perlindungan aset menjadi fondasi utama menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Punya usaha dan butuh website?
Tim PixelWebID membantu UMKM punya website rapi, cepat di HP, dan mudah dihubungi lewat WhatsApp.

Berita disusun dengan bantuan AI dari sumber yang ditautkan di setiap artikel dan diperiksa otomatis. Temukan kekeliruan? Hubungi redaksi melalui halaman Kontak.

Berita terkait