PixelWeb News. Senin, 5 Oktober 2026
Terbaru Pemerintah Andalkan Kombinasi Energi Bersih dan Infrastruktur Digital Pacu Ekonomi NasionalMeta Uji Fitur Restricted Chat di WhatsApp untuk Tangkal Penyadapan Agen AIGletser Swiss Menyusut 19,4 Persen dalam 5 Tahun: Akselerasi Krisis Iklim GlobalMekanisme Di Balik Listrik Padam Saat Terjadi Badai PetirModus Penipuan Baru ChatGPT Lewat Iklan Google Jebak Pengguna Pasang Malware
Teknologi

Gletser Swiss Menyusut 19,4 Persen dalam 5 Tahun: Akselerasi Krisis Iklim Global

Riset terbaru mengungkap lapisan gletser di Pegunungan Alpen Swiss menyusut hingga 19,4 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir akibat akselerasi krisis iklim.

Gletser Swiss Menyusut 19,4 Persen dalam 5 Tahun: Akselerasi Krisis Iklim Global

Volume lapisan es alami di kawasan Pegunungan Alpen, Swiss, tercatat menyusut hingga 19,4 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir sejak 2021 hingga 2026. Laporan pemantauan tahunan dari Swiss Glacier Monitoring Network bersama Swiss Commission for Cryosphere Observation mengungkapkan bahwa krisis iklim global dan gelombang panas ekstrem menjadi pemicu utama lenyapnya hampir seperlima cadangan es tersebut dari wilayah pegunungan tersebut.

Dalam delapan bulan pertama pada tahun 2026 saja, gletser di wilayah tersebut telah kehilangan 5,5 persen volumenya. Angka laju penurunan ini hampir menyamai rekor pelelehan terburuk yang pernah tercatat pada 2022. Fenomena penyusutan es ini terakselerasi oleh kombinasi antara rendahnya curah salju saat musim dingin dan paparan suhu tinggi secara terus-menerus sepanjang musim panas.

Berdasarkan data yang dirilis MeteoSwiss, periode April hingga September tahun ini menjadi paruh musim panas terpanas dan tertiris sejak sistem pencatatan cuaca pertama kali dimulai pada 1864. Sepanjang periode sejarah industri tersebut, akumulasi emisi karbon dioksida global telah menembus 1,8 triliun ton di atmosfer, yang memicu kenaikan suhu rata-rata bumi sekitar 1,4 derajat Celcius. Di benua Eropa, khususnya kawasan pegunungan tinggi Alpen, laju pemanasan terjadi dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global akibat efek terperangkapnya panas emisi bahan bakar fosil.

Peneliti utama dari ETH Zürich, Matthias Huss, menjelaskan bahwa penurunan ketebalan rata-rata gletser pada tahun ini berkisar antara 2,5-4 meter. Fenomena pelelehan saat ini tidak lagi sekadar terjadi di permukaan es akibat sinar matahari langsung, melainkan melalui proses keruntuhan struktur internal. Aliran air hangat di bawah permukaan es membentuk rongga-rongga besar atau gua di dalam gletser, sehingga atap es kehilangan penopang dan runtuh bagaikan struktur keju berlubang.

Proses perusakan dari dalam ini mempercepat hilangnya massa es secara masif, mengubah wilayah yang dulunya tertutup lapisan es setebal ratusan meter menjadi bentang alam bebatuan tandus yang menyerupai permukaan Bulan. Beberapa gletser berukuran kecil bahkan dilaporkan telah lenyap sepenuhnya dari pemantauan para peneliti.

Apa artinya bagi pembaca di Indonesia

Ilustrasi grafis abstrak pemantauan data iklim dan perubahan suhu pegunungan

Meskipun peristiwa pelelehan gletser ini terjadi di kawasan Eropa, fenomena ini memberikan gambaran nyata mengenai percepatan perubahan iklim yang dampaknya terhubung secara ekologis ke seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Pemanasan global yang dipicu oleh akumulasi gas rumah kaca bekerja secara sistemik tanpa mengenal batas wilayah geografi.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia, percepatan pelelehan es di kawasan pegunungan dunia merupakan indikator penting atas ketidakstabilan sistem iklim bumi. Fenomena ini berkontribusi pada perubahan pola cuaca global yang kian tidak menentu, mengganggu keteraturan musim hujan dan kemarau di wilayah tropis, serta berdampak langsung pada ketahanan pangan dan sektor pertanian nasional. Selain itu, pencairan es daratan secara masif berpotensi mendorong kenaikan permukaan air laut yang mengancam kawasan pesisir serta pulau-pulau kecil di wilayah kepulauan Indonesia.

Peristiwa ini menekankan urgensi peningkatan adaptasi bencana iklim serta penguatan komitmen pengurangan emisi di berbagai sektor industri dalam negeri.

Laporan mengenai kondisi krisis iklim ini disarikan berdasarkan data pemantauan lingkungan global sebagaimana diberitakan oleh CNN Indonesia.

Punya usaha dan butuh website?
Tim PixelWebID membantu UMKM punya website rapi, cepat di HP, dan mudah dihubungi lewat WhatsApp.

Berita disusun dengan bantuan AI dari sumber yang ditautkan di setiap artikel dan diperiksa otomatis. Temukan kekeliruan? Hubungi redaksi melalui halaman Kontak.

Berita terkait